A.J. Susmana's Blog

June 22, 2013

Kata-katakukutitipkan pada anginBerharap lembut berdesir di telingamuDan kamu mengerti: betapa aku rindu padamu

Tebet, 12 Juni 2011
 •  flag
0 comments
Twitter_icon like  • 
Published on June 22, 2013 01:41 • 46 views

July 20, 2010

April 12, 2010

Bisnis Indonesia, Jumat, 09-APR-2010

Berkecimpung di dunia kese­nian memang belum mem­buat AJ Susmana bergeli­mang harta. Namun, seni telah membawa anak Klaten ini menyam­bangi negeri tetangga. Seni pula yang menyelamatkan hidupnya dari kejaran aparat negara pascaperistiwa 27 Juli 1996 (Kudeta Dua Tujuh Juli/Kudatuli).

Mono, panggilan akrab AJ Susma­na, pada 1994 bertolak ke Australia mewakili Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jaker) mengikuti Indian Ocean Trade Union Conference Cultural Network di Perth.

Di sela-sela pertemuan itu, laki-laki kelahiran Klaten, 20 November 1971 ini menggelar aksi teatrikal semi monolog. "Meski spontan tanpa latihan, aksi itu mendapat apresiasi ratusan hadirin perwakilan lebih dari 20 negara," katanya.

Cukup sederhana, dia menyusun beberapa buah meja bertingkat-ting­kat di panggung. Masing-masing tingkat ditempeli kertas besar be­r­tuliskan feodalisme, kapitalisme, imperealisme. Lalu, dia memukul-mu­kul piring dengan sendok sambil berteriak hungry!. Irama­nya naik tu­run. Pelan, la­lu lama-lama ken­cang.

Tanpa diperintah, penonton ikut memu­kul benda di sekitarnya sem­bari berteriak hungry. Saat seisi ge­dung bergemuruh, Mono meronta-ronta meruntuhkan meja yang tadi ter­su­sun. Meja itu ambruk dan Mo­no me­ngepalkan tinju. Di badannya ter­gan­tung kertas bertuliskan sosial­is­me.

Tahun itu, Jaker diketuai oleh Wiji Tukul, penyair asal Solo yang hingga kini belum diketahui di mana rimbanya. Mono sendiri menjabat sebagai sekjen. "Itulah pertama kali saya ke luar negeri. Sebenarnya tak habis pikir, anak kampung kok bisa keluar negeri," ujarnya seraya melempar senyum.

Dua tahun berikutnya, begitu peristiwa 27 Juli 1996 meletus, rezim Orde Baru menyatakan Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan organ sekawannya, termasuk Jaker sebagai organisasi terlarang. Para aktivisnya diburu, termasuk Mono.

Saat saya temui beberapa hari lalu di markas Sanggar Satu Bumi yang dikelolanya di bilangan Tebet, Jakar­ta Selatan, pria berambut ikal ini me­ngaku sewaktu menjadi buru­an apa­rat negara pasca-Kudatuli diri­nya ter­tolong oleh ilmu seni yang di­miliki.

"Waktu itu saya kabur ke Bogor, tanpa tahu ke mana dan siapa yang akan dituju. Tapi saya terus berjalan hingga sampailah di kampus Universitas Juanda," paparnya mengenang masa lampau. Kini sorot matanya yang tajam berubah sembab.

Dalam hati dia bergu­mam "Seper­tinya kampus ini cukup aman untuk bersembunyi." Mono pun berkenalan dengan beberapa mahasiswa. Alha­sil, tidak butuh waktu lama baginya sehingga mampu men­dorong maha­siswa mendi­rikan kelompok teater.

Komunitas itu kemudian menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Lentera di Universitas Juanda. Mono orang pertama yang mengajar teater di sana. "Istilahnya sambil me­nyelam minum air. Sambil bersem­bunyi, mengasah ilmu dan bertahan hidup," kenangnya.

Hingga hari ini, teater Lentera te­tap menyala di Bogor. Hingga hari ini pula, tulisan, mantan ketua Fo­rum Seni Budaya Retorika Filsafat Universitas Gadjah Mada ini bertebaran di kolom seni budaya surat kabar lokal maupun nasional.

Sejumlah buku sastra telah lahir dari tangan dinginnya a.l kumpulan puisi Kota Ini Ada Di Tubuhmu (November 2008), kumpulan cerita pendek Perempuan Tangguh (April 2009), esai-esai untuk kemandirian bangsa Mengobarkan Kembali Perang Kemerdekaan (Juni 2009).

Penggubah lagu

Produktivitasnya di dunia seni tak hanya sebatas menulis dan berteater. Mono juga terampil menggubah pui­si menjadi lagu. Lagu gubahan­nya se­ring disenandungkan kalangan ak­ti­vis parlemen jalanan hingga penga­men jalanan.

Puisi fenomenal yang di­gubahnya, seperti Peringatan dan Nya­nyian Akar Rumput karya Wiji Tukul, Benar karya Andi Munajat, Barisan Ibu karya Agus Jabo dalam antologi puisi Negeriku, Tuhan Tu­run­­lah Ke Sini karya Yanti Irawan, dalam antologi puisi Ibu, Maaf Aku Nakal.

Menurut dia, nyanyian adalah bagian tidak terpisahkan dari manu­sia. "Manusia mana yang tidak suka musik? Terlepas dari perbedaan gen­renya, itu soal selera. Puisi yang saya gubah menjadi lagu, hanya puisi yang menurut saya punya ke­kuatan mem­bang­kitkan sema­ngat pem­be­basan kaum tertindas."

Kini, AJ Sus­mana tetap ber­karya da­lam kesederha­na­annya. Bersama kawan-kawan di Sang­gar Satu Bumi, dia bersiap men­dirikan Aka­­demi Kebu­dayaan Wiji Tukul dan sebuah pementasan teater akbar dengan melibatkan sejumlah selebritas. (redak­si­@bis­nis.co.id)

Oleh Wenri Wanhar
Kontributor Bisnis Indonesia

http://www.bisnis.com/servlet/page?_p...
 •  flag
0 comments
Twitter_icon like  • 
Published on April 12, 2010 07:14 • 373 views

December 18, 2009

Hidup Budaya Kerakyatan !

Bersama surat ini kami lampirkan naskah teater kami yang terbaru dengan

Judul : Dongeng Sang Hyang Rampok Ing Jagad
Karya : AJ Susmana
Konsep Naskah : Konsep naskah ini untuk pementasan yang paling sederhana dan miskin bahkan miskin segalanya baik finansial maupun hal-hal yang berhubungan dengan seni teater. Tujuan naskah ini mau menunjukkan ada banyak jalan untuk memperoleh pengetahuan politik di kalangan rakyat tertindas. Ada yang sengaja dengan mengikuti diskusi yang diadakan lsm, mahasiswa, ormas atau partai politik.; rajin membaca dan mendengarkan berita-berita politik tapi juga ada yang tidak sengaja karena kepepet bahkan bisa juga melalui tukang tipu. Kisah ini sejujurnya diinspirasikan atau berangkat dari pengalaman seorang aktivis pro demokrasi di bawah Orde Baru Soeharto yang kehilangan tas travel berisi ribuan selebaran anti Orde Baru ketika sedang beristirahat di stasiun Kereta Api Listrik Jakarta. Aku membayangkan apa jadinya ketika lumpen pencuri tas itu membuka isinya yang ternyata bukan baju atau barang-barang berharga seperti yang diharapkan? Apa juga reaksi kawan-kawannya? Apakah bisa mengubah cara hidup dan berpikirnya? Mengingat makin besar juga barisan rakyat miskin perkotaan di Jakarta yang turun ke jalan mendukung gerakan menuntut Soeharto mundur? Tapi, cerita aktivis pro demokrasi kepadaku itu bisa juga nipu, lho?

Teknis pementasan:

• Pementasan Naskah ini bisa diadakan di segala tempat, terbuka atau tertutup. Di Lapangan sepak bola boleh. Di depan teras rumah juga boleh. Pakai naskah atau tanpa naskah juga boleh.
• Musik disesuaikan dengan selera dan kondisi, kecuali yang sudah ada keterangan dalam naskahnya.
• Selebaran yang dibaca karena hasil curian disesuaikan menurut selera atau situasi politik yang penting demokratik tidak mengandung sara, kecuali yang sudah ada dalam naskah
• Boleh dimodifikasi dan Kritik kami harapkan.

Ijin Pementasan Naskah:

Siapapun boleh mementaskan naskah ini. Asal kami diberitahu. Siapa tahu kami bisa memberi saran dan bantuan lainnya yang sanggup kami berikan tentu saja.






Salam,



Kuncoro Adi Broto
Direktur Sanggar Satu Bumi


Dongeng
Sang Hyang Rampok Ing Jagad


Musik

Seorang Pendongeng berbaju putih menari membawa kapak dengan gembira seperti anak-anak di malam purnama.

Terbitlah terang
Terang nan benderang
Sehingga gelap lambat laun kan lenyap

Datanglah cahaya di hati
Bawalah imanku kembali
( Cornel Simanjutak)

Selamat Malam,
Assalamu’alaikum
Salam sejahtera
Untuk semua yang bernafas
Hidup Rakyat
Hidup Kegelapan!

Habis gelap terbitlah terang! (Kartini)
Ini dongeng. Kata orang Jawa: dipaido keneng. Anda pun boleh tidak percaya. Dongeng Sang Hyang Rampok Ing Jagad telah berabad-abad didongengkan secara turun temurun dalam tradisi lisan oleh para murid gelap Sang Hyang Rampok Ing Jagad yang setia dengan semangat dari rampok, oleh rampok, untuk rampok.

Dipersembahkan pada seluruh rampok dengan menjunjung tinggi asas demokratik. Yang Artinya: tidak didasarkan atas suku, agama, jenis kelamin, ras dan golongan. Tidak peduli Cina, Batak, Betawi ape Madure. Dari rampok utara sampai selatan dari barat sampai timur, dari rampok bule sampai item, jangkung maupun pendek, beragama ataupun tidak beragama, pakai pistol atau kapak, boleh ikut, nonton dan denger. Yang merasa bukan rampok, silahkan duduk manis. Boleh ketawa kalau suka. Boleh gabung kalau mau. Dan jangan lupa boleh kasih dhuit kalau rela: Lihat aku bawa kapak tapi tak memaksa. Udah malas kami dikejar, didor, dan dilempar ke penjara.

Doakan saja. Kami akan mulai. Mengapa didongengkan sekarang? Karena sudah jamannya. Inilah jaman rampok merajalela!

Musik

Masuk Dua Orang berpakaian Hitam - hitam mengikuti langkah, gaya dan gerak pendongeng berbaju putih

Dulu. Begitulah kalau kita ber-dongeng. Harus pakai dulu. Bener, Nggak? Para rampok pakai baju item. Hitam-hitam. Karena rampok berasal dari setan. Setan berasal dari ? Kegelapan, adik-adik. Sekarang, sejak bola lampu listrik dibuat sama Thomas Alva Edison tahun 1880, seratus dua puluh dua tahun yang lalu, semua tempat dapat dibikin terang.

Untuk itu berterimakasihlah pada Thomas Alva Edison yang juga berterimakasih pada penemu dasar-dasar ilmu listrik, Michael Faraday.

Michael Faraday dilahirkan pada tahun 1791, di tengah-tengah keluarga yang sangat miskin. Mereka hanya tingggal di sebuah gubug kecil di Kota London. Bapaknya cuma kerja sebagai tukang besi. Di gubug itulah Michael Faraday tinggal bersama tiga saudara , Bapak dan Ibunya. Mereka sekeluarga sering menderita kelaparan dan kedinginan karena tidak ada uang. Sekolah Michael Faraday di desa dan hanya sempat mengerti tentang menulis, membaca dan berhitung. Selanjutnya ia bekerja mencari nafkah sebagai pesuruh toko buku yang memiliki perpustakaan surat kabar…(H. Sihombing dan K Dwiyana, Buku Pintar Tokoh Ternama, Pustaka Delapratasa, 1994. H. 83)

Eit, Lupa. Ngelantur. Tak ada moderator, sih! Sori adik-adik. Begitulah kalau mendongeng, harus manggil adik-adik. Sori sekali lagi, ya. Ini bukan dongeng Faraday. Lain kali, mungkin.

Inilah dongeng rampok! Para Generasi Penerus dan Keturunan gelap Sang Hyang Rampok Ing Jagad. Sayang, Edison dan Faraday tidak pernah dirampok. Justru mereka telah merampok ruang kegelapan kaum rampok sejati.

Dengan marah para Rampok pun mencampakkan baju hitam mereka. Di samping gampang ketahuan karena semua tempat sudah terang, banyak orang mulai suka bermain gelap-gelapan. Dimana? Di warung-warung gelap sampai remang-remang. Di kantor penggelapan: Uang, Gaji, Pajak dan melakukan rapat-rapat gelap. Dimana-mana orang main gelap-gelapan. Punya istri pun harus ada yang gelap. Dan anak pun gelap. Apalagi murid?

Bajingan! Dunia menjadi gelap karena gelap-buatan manusia-manusia terkutuk. Karena itu Kata Rampok tua kepada antek-anteknya: ‘gelap-gelapan mereka tak alami, Kawan-Kawan. Mereka tidak punya hak untuk bergelap-gelap. Mereka terhormat, bangsawan, borjuis, berduit, dapat fasilitas rumah, mobil, pendidikan dan kesehatan. Gratis’.

Dalam kongres Para Rampok yang diselenggarakan secara luar biasa, kilat dan mendesak para rampok pun memutuskan untuk OTB: Orde Tak Berwarna. Meskipun ada yang menolak. Dengan alasan: mempertahankan tradisi dan sudah menjadi konsensus lisan para rampok selama berabad-abad.

Nah! Salah satu dari kamu pasti keturunan rampok. Tapi, bukan aku. Asu! Aku adalah Pendongeng. Bawa Kapak tapi tak maksa. Boleh percaya boleh tidak. Bagi dhuit harus rela.


Musik

Seseorang Bawa Obor berbaju hitam

Akulah Sang Hyang Rampok Ing Jagad
Bajuku hitam penuh dendam.
Kegelapan adalah asal dan tujuan
Rakyat dirampok di mana saja
Di pabrik. Di ladang. Di kampung-kampung

Mengapa diam saja?

Hoee…
Hentikan!
Angin malam bawa petaka
Arok, Said, Kecu dan Bromocorah
Gobang Kinosek, Orang-Orang Mangir, Kutil, Kasdut
Siapa turut?

Ca.ca.ca dicacah
Kar.kar.kar dibakar
Orang-orang tak mengerti
Mata-Hati gelap karena?

Aku bawa pedang
Tak memaksa
Kalau tuan mengerti
Mengapa?
Uang dan perak tak rela?


Negara! Tuan!
Pedangku berayun

Musik

- Yang bawa pedang berbaju hitam pasti rampok
- Rampok sekarang tak perlu bawa pedang dan dapat berbaju apa saja
- Cukup dengan tanda-tangan. Sek-esek-eseks. Duit melayang. Milyaran-trilyunan
- BLBI, dana non budgeter bulog, pakai rapat, uang jalan, bikin air mancur. Kok milyaran?
- Busyet! Di negeri yang mengaku ber-Tuhan?
- IMF, World Bank, WTO, ADB kasih pinjaman. Rakyat malah sengsara
- Dan mereka yang terus-menerus bikin hutang adalah rampok?
- Subsidi BBM dicabut, Pendidikan dicabut, Kesehatan dicabut, Upah buruh makin rendah, perumahan tak layak. IMF, WB, WTO, ADB adalah rampok?
- Oo

Katakan saja pada anak-anak
Belanda mengambil tanah kita dengan perampokan
Begitu jugalah tanah Badega, Kedung Ombo, Blangguan, Ngawi
Di jaman Orde Baru
Dirampok

Katakan saja
Tanam paksa nenek moyang kita
Di jaman Van den Bosch bukanlah dongeng
Seperti juga para buruh yang terpaksa menerima upah
Walau tak cukup buat kontrakan dan kawin
Bukanlah dongeng
Bukan dongeng, Kawanku

Katakan saja pada anak-anak
Para pejuang kita telah mati ditembak tentara
Begitulah jendral Soeharto berkuasa mendepak Bung Karno
Dan dwi fungsi tak perlu dicabut
Sampai sekarang ketika putri Bung Kita itu jadi presiden

Katakan saja pada anak-anak
Bung Karno diculik para pemuda
Karena ragu memproklamasikan kemerdekaan kita
Biar kelak jadi pemuda
Tak tunduk pada kaum tua yang capai berjuang

Sekarang, Kawanku
Katakan saja pada anak-anak
Apa yang kamu tahu
Agar tak lagi ada anak-anak
Tertipu si Sirik bertampang juwita
Kawanku

Musik

Corah membaca statetment dan Selebaran politik hasil rampokan yang tak sengaja.

- Politik! Untuk apa kau bawa ke sini, Corah? Kita ini kan rampok.
- Kita ini rakyat miskin, Cu. Apalagi aku memperolehnya tak sengaja. Inginnya merampok tas dengan duit kertas milyaran. Tak tahunya, kertas-kertas brengsek ini, Cu. Mau apalagi?
- Buang aja. Nanti bikin masalah.
- Ah. Sayang! Susah-susah ngambilnya dibuang? Taruhannya dicacah atau dibakar. Iseng-iseng dibaca aja, Cu. (membaca lagi dengan suara keras)
- Anjing! Cukup, Corah. Telingaku sakit. Aku mau tidur.
- Kamu tak suka politik? Baiklah. Tidur aja. Biar aku mendongeng mengantar tidurmu. Dulu kata embah: ‘Al kisah di Kerajaan Hindia Belanda. Cucuku, Kerajaan Hindia Belanda makmur, permai, subur, kaya, indah bagaikan intan permata. Ada yang bilang zamrud katulistiwa. Namun, kondisi rakyatnya sangat tertindas dan terhisap. Rakyat Hindia Belanda baik itu bangsa Aceh, Batak, Bugis, Jawa, Bali, Sunda, Cina, apa lagi? Juga yang beragama Islam, Kristen, miskin, bodoh dan diperbudak oleh sistem kapitalisme ,imperialisme dan Kolonialisme. Bung Karno, Bapak Megawati Soekarnoputri Presiden RI sekarang, bilang Nekolim. Neo Kolonialisme dan Imperialisme.

- Rakyat Hindia Belanda seperti Ayam mati di lumbung padi. Tidak mendapat pendidikan dengan baik. Yang boleh sekolah harus keturunan Raja atau yang ber-gulden. Karena itulah Rakyat tidak dapat membaca dan berbahasa Belanda. Bahasa Belanda adik-adik, sangat penting. Dengan bahasa Belanda orang membuka jendela Dunia. Semua pengetahuan politik, ekonomi, budaya ditulis dalam bahasa Belanda.

- Karena tertindas terus, rakyat Hindia Belanda pun melawan. Nah, mereka yang sadar pun melawan dengan mendirikan berbagai kelompok membaca. Mereka yang tidak dapat membaca dan tidak punya duit juga membuat kelompok membaca, lebih tepatnya pendengar. Berdirilah Kelompok Membaca antara lain: Sarekat Priyayi, Serikat Islam, Serikat Abangan, Boedi Utomo, ISDV. Yang paling bagus, karena terorganisir dan sistematis adalah ISDV. Berdiri tahun 1914 Masehi. Ketuanya Sneevleet Orang Belanda totok. Diusir dari Kerajaan Hindia Belanda karena kegiatannya telah mengganggu ketenangan para perampok beraliran kapitalisme en neokolonialisme. Ia pun menuju ke Cina, bantuin Mao and The Gang


- Kelompok membaca terbesar, progresif dan massif adalah Serikat Islam. B.O masih terlalu priyayi dan jawa. Sarekat Abangan adalah perkumpulan pengikut Syeh Siti Jenar, berdiri di Delanggu Klaten. Ketuanya bernama Mangun Atmaja. Meninggal di Digul: dimakan buaya saat sedang bertapa di air tempuran . Mangun Atmaja dibuang ke digul karena terlibat pemberontakan tahun 1926 walau bukan PKI

- Dan le, di dalam kelompok membaca itu juga ada yang tidak dapat membaca. Bisanya hanya mendengar. Orang-orang ini pun tahu pentingnya menyerap ilmu pengetahuan. Mereka pun iuran untuk membayar seseorang terpelajar atau yang dapat membaca. Jadi, membacakan koran saja jaman Kerajaan Hindia Belanda dapat menghasilkan duit. Itu dulu, sekarang lain. Karena itu para penipu yang paling bodoh sekalipun tapi licik dan berani adalah orang-orang buta huruf yang pura-pura melek huruf membacakan koran pada Kelompok Pendengar yang susah payah iuran untuk mendengar perkembangan ilmu pengetahuan termasuk politik. Modalnya cuma beli 1 eksemplar koran berbahasa Melayu, Jawa, mungkin juga Belanda seharga 1 sen. Itu pun sebagian ada yang hasil dari Ngecu, maling, mbegal, nyopet, ngutil, nggedor, nodong pejabat-atau jendral KNIL, tentara kerajaan Hindia Belanda atau tuan tanah-tuan tanah yang kaya karena upeti kawula
.
- Sekarang kamu enak, Cu. Mau tidur dibacain koran gratis! Itu Dulu, sekarang lain. Namun sebenarnya sama saja, Sekarang rakyat Indonesia yang terkaya dan berduit dapat membaca buku-buku berbahasa inggris, prancis, jerman di negeri manca . Di universitas, akademi atau institute . Dan kita, Cu. Cuma dapat membaca kertas-kertas , selebaran, koran dan buku dari hasil usaha ngRampok lagi

- Bukan main lho, Cu PT Kaum Rampok yang kita rintis dan bangun ini. Taruhannya digebuki sampai mati oleh Massa, dibakar, dicacah, ditembak. Mati, Cu. Yang dipenjara juga banyak. Tapi, Cu, yang ada di penjara adalah kebanyakan rakyat miskin. Ortunya ada yang bertradisi rampok. Yang lain: ada yang ojek, bandar judi atau togel, mbecak, tukang kebun, pesuruh, buruh, pak tani, pelacur. Jadi di dalam penjara miskin , di luar juga miskin. Kasihan kan? Kamu dengar?


- Cita-citanya juga tidak merebut kekuasaan pemerintahan tapi cuma “Punya Mobil, Punya Sawah. Jadi Menteri atau Bupati! Aduh, Cu. Cu. Sepele banget. Sipil. Punya Mobil. Punya Sawah. Jadi Menteri atau Bupati? Makanya banyak rakyat diadu-domba oleh orang-orang berduit dalam adu jago Menteri atau bupati dan balapan tuku Mobil atau sawah. Sampai Jakarta macet. Penuh mobil pribadi sementara rakyat berdesakan menari maut di Kereta, Bus dan metromi. Kalau punya cita-cita? Setinggi langit, Nak, seperti lagu Bintang Kecil, adik-adik.

Musik


Bintang Kecil
Dilangit yang biru
Amat banyak
Menghias angkasa

Aku ingin
Terbang dan menari
Jauh tinggi
Ke tempat kau berada

- Kamu, sudah tidur, Cu? Okelah. Ia membaca lagi dengan suara sedang makin lama makin keras dan berakting saking asyiknya.

Cu terbangun dan berteriak mengancam :
‘Corah! Kau baca lagi?! kurobek habis kertas-kertas hasil rampokan mu itu. Kalau perlu kubakar jadi abu.

Dasar tak suka bacaan. Kamu seperti orang Idiot, goblog, bego, tolol. Jangan dibakar, Cu. Lebih baik dikasihkan pada Tinah untuk bungkus cabe.

Busyet, dikasihkan? Jangan, Corah.’ Cu berubah baik, ramah dan membujuk-rayu

Lebih baik kita kilo-in jadi duit dan Bisa beli Raja Wali. Biar kita terbang ke Jauh Tinggi Ke tempat Kau Berada, Corah. Seperti lagu Bintang Kecil-mu tadi.

Wah, Bisa juga kau Corah. Ternyata kamu cerdas dalam menghasilkan Uang.

Inilah, Corah Hasil dari Berpikir. Cu mulai nyombong. Nggak cuma baca dan ngoceh kayak kamu.


Boleh.

Panggil Gajul

Gajul!

Musik

Minuman Keras, Rokok dan makanan dihidangkan. Aku anak Indonesia mengalun dalam aliran musik congdutnya (Kroncong dangdut sekenanya).

Aku anak Indonesia
Aku punya cita-cita
Punya mobil punya sawah
Jadi menteri atau bupati

Aku cinta pancasila
Aku cinta pendidikan
Apa daya uang tak punya
Sekolah pun aku tak Bisa

Indonesia kaya raya
Mengapa aku menderita
Tapi aku tetap gembira
Karna Indonesia Merdeka

Aku makan propaganda
Dengan lauk janji-janji
Coba terka aku siapa
Aku anak Indonesia

( Yayak Kencrit)

Gobang, Mari kita pesta. Terbang ke langit yang gelap

Gobang yang datang dan diteriaki diam saja. Matanya awas memandang Kecu dan Corah.



Terasa sunyi mengerikan. Gobang membaca seperti doa amarah yang dijawab kecu dan corah setiap baitnya dengan: Amin. Yang artinya Sesungguhnya. Dari kata Amen bahasa latin

Kami pun menginginkan surga

Sungguh tak nikmat jadi orang mlarat
Sengsara terus di dunia sampai akhirat

Di dunia tak bisa makan yang lezat-lezat
Kekurangan gizi dan bodoh
Tanah tak ada rumah tak punya
Tak bisa nyumbang
Tak bisa jadi dermawan
Anak banyak berdesak-desakan

Tak ada nikmatnya jadi orang mlarat
Upah rendah mogok menuntut kenaikan dipecat
Nganggur luntang-lantung ke sana kemari
Jadi penjahat dilaknat

Tak ada nikmatnya jadi orang mlarat
Di dunia ditindas penguasa
Harus nurut dilarang bicara
Kalau mbangkang disiapkan polisi dan tentara
Lalu diadili dan dilempar ke dalam penjara
Setelah mati disiksa lagi
Dilempar ke neraka
Karena sembahyang tak pernah

Kami pun ingin masuk surga
Tapi berlapis-lapis penjaganya
Kamipun menginginkan surga
Jadi orang mlarat terus apa enaknya

1/10/1997
Aloysius Semedi
Mega Bintang Rakyat-MBR Nomer 2 Minggu I Oktober 1997. Diterbitkan oleh Koalisi Demokrasi Mega-Bintang-Rakyat

Inilagi! Cu, jengkel. Untuk apa kau bawa politik busuk itu kemari?!

Habis. Gimana lagi, Cu. Maunya ngrampok dhuit trilyunan. Tapi, apes. Dapatnya kertas-kertas brengsek ini, Cu.

Corah tertawa.

Lu, sendiri kan tahu. Ya, nggak Corah? Taruhannya nyawa untuk ngedapetin ini: kertas-kertas brengsek. Dicacah. Dibakar. Digebukin massa ame polisi. Ampe mati. Apes-apes dikurung, Cu.

Sama! Sama! Persis. Persis nasibku hari ini.

Duo rampok kok ngrampok kertas. Besok kaliyan ini ngrampok aja pabrik kertas. Biar di sini tak ada politik. Anjing, kaliyan semua.! Cu, Marah. Kalian ini rampok. Keturunan Sang Hyang Rampok ing Jagad. Malu-maluin!

Tapi, Cu. Puisi Politik ini menghasilkan banyak dhuit. Nih, kubawain Vodka dua botol ama rokok jisamsu dan daging anjing ama babi kesukaan Cu.

Busyet. Pintar juga lu cari dhuit. Bagaimana Bisa?

Namanya juga rakyat miskin. Punyanya mulut. Jadi, Kubacakan saja Politik busuk ini di bus kota, kereta, warung-warung istirahat para buruh, dan pasar. Orang pada ngasih dhuit, Cu. Nggak kalah sama yang pegang gitar lulusan Akademi Musik Indonesia.

Lho, persis seperti dongeng dari Sang Hyang Rampok ing Jagad. Dulu bacain koran ngawur aja dapat dhuit. Sekarang lu bacain politik ngawur dibayar juga. Menghasilkan dhuit

Sama! Sama! Persis! Persis seperti Dongengku tadi, Cu

Musik

Said, Kasdut dan Arok, Kutil berdatangan bergantian membaca Potret Negeri Ini


Potret Negeri Ini

Ini negara tidak pantas disebut merdeka
Karena di parlemen pun orang tidak bebas bicara
Dan tentara semaunya menggunakan senjata

Hukum yang berlaku di sini
Bukanlah hukum yang disepakati bersama
Tetapi hukum yang berdasarkan uang dan nafsu penguasa

Dan pengadilan di sini
Telah menjadi bursa pelacuran moral
Tempat diperdagangkannya hukum dan nurani
Yang pada intinya
Menindas rakyat kecil dan lemah

Dan mahasiswa yang kritis
Justru ditendang dari kampus dan di penjara
Dan para wartawan yang berpihak kepada rakyat
Menjadi frustrasi karena dibungkam
Justru oleh korannya sendiri

Ini negeri teramat rusuh
Karena diperintah oleh tiran boneka asing
Sementara ahli agama hanya sibuk bertikai paham
Dan para rektor bukan lagi para ilmuwan yang sehat
Tetapi justru yang membantai kehidupan kampus
Karena telah bersekutu dengan para tirani

Di negeri ini perampokan terhadap tanah-tanah rakyat
Justru didukung oleh para petinggi negara
Yang berkomplot melakukan kejahatan-kejahatan itu
Dengan para kapitalis asing

Lalu, saya bertanya pada saudara-saudara
Yang hadir di sini
Yang mengaku berTuhan dan berpancasila
Apakah pantas kita terus-menerus mendustai hati nurani
Yang muak melihat kebusukan-kebusukan ini?

Saudara-saudara sekalian
Kemenangan hanya bisa direbut dan diperjuangkan
Bukannya ditunggu dan didiskusikan
Dan karena maksud-maksud baik kita tidak ditanggapi
Akal sehat penguasa
Itu berarti kita harus bersama-sama
Menggalang kekuatan
Dan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu
Dengan turun ke jalan
S E K A R AN G!

SERBU, Seruan Rakyat Berjuang diterbitkan oleh Jaringan Perjuangan Demokrasi, Edisi Ketiga, Akhir Maret

Dunia memang sudah Gelap.
Pasti ini juga hasil perampokan?
Kamu Kamu Kamu juga tak akan membuangnya?
Karena taruhannya nyawa
Dan hidup takut penjara?

Kertasnya Dikiloin Aja. Ama Tinah, Penjual Cabe. Sudah disalin. Mari, kita terbang ke langit yang gelap

Musik

Tikar pandan tikar plastik
Lambang dua kekuatan
Tikar pandan tikiar plastik
Kita duduk berhadapan

Tikar pandan anyaman tangan
Tikar plastik buatan pabrik
Tikar pandan terus terdesak
Tikar plastik yang mendesak

Kalian duduk dimana?
( Wiji Thukul)

Corah yang telah mabuk. Membacakan puisi yang ada dikertas hasil rampokannya. Gayanya menirukan gadis cilik pembaca puisi di Indosiar (?) kalau mau tutup.


Untuk C

Di sini
Di antara yang tertindas
Tak ada langit dan matahari
Atau bulan di malam
Yang menemani sepi
Bintang-bintang berlari tak berkedip

Kamu akan berkata:
Bohong!
Segala api datang dari penindasan
Nyalakan, Sayang. Nyalakan apinya

Tak !
Aku rindu pada kaki-kaki langit
Aku rindu perempuan desa
Aku rindu mencium bunga-bunga gunung
Ijinkan aku berlari di ketinggian
Biarkan aku terbang sejenak, Sayang
Aku kembali.
Kembali.
Pasti

Bulshit!
Di sini
Di antara para pejuang
Yang pergi tak kembali
Berlarilah di antara kebohongan
Yang kembali seperti anak-anak belajar berjalan
Kami enggan menemanimu
Kami tak peduli: kemana kamu pergi
Dengan atau tanpa kamu, kami berjalan
Ke depan. Kejarlah. Kejarlah kami
Kami tak menunggu

Oh, para pejuang
Di sini
Di antara yang tertindas
Tak ada langit. Tak ada matahari
Seperti doa-doa para rahib tak bertepi
Ijinkan aku terbang sejenak
Di ketinggian
Biar kulihat
Segala api berasal dari penindasan.



Musik

Pendongeng berbaju putih bawa kapak menari gembira.


To be Continued! Alias Bersambung! Alias Tamat sementara,
Demikianlah adik-adik. Dongeng Sang Hyang Rampok Ing Jagad . Kebanyakan Mereka adalah Murid Sang Hyang atau lebih populer dengan sebutan Eyang, Danyang atau Embah Rampok ing Jagad. Jangan lupa, le, Gubernur Jendral Kerajaan Hindia Belanda juga suka dipanggil Eyang.

Dongengnya masih panjang. Tapi, Adik-adik sudah kelihatan ngantuk. Besok kita sambung lagi. Singkatnya, Sang Hyang Rampok ing Jagad mempunyai murid bernama Arok yang juga mengaku sebagai keturunan dewa Brahma. Arok, Perampok Sakti mandraguna. Bisa berubah jadi Hantu Alasan di wilayah kekuasaan Kerajaan Tumapel yang tunduk kepada Kerajaan Kediri. Arok pun sukses merebut kekuasaan di Tumapel menduduki takhta dan? Tentu saja menduduki Dedes yang paramita hampir tiap hari saat terang maupun gelap. Arok kemudian merobohkan Singgasana Kediri yang diduduki Dandang Gendhis. Tahun 1227 Dan bertobat menjadi Raja Hindhu Shiwa yang terpercaya serta mengganti namanya menjadi Sri Rajasa Amurwabhumi keturunannya adalah raja-raja tangguh dari Pulau Jawa dengan kerajaan-kerajaan Singhasari, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram: Kasunanan, mangkunegaran, paku alaman dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang semuanya berusaha menguasai Nusantara..

Namun semua kerajaan-kerajaan hasil kegelapan Arok itu tak menarik untuk didongengkan sekarang. Sedikit demi sedikit kekuasaan Raja-Raja gelap itu dirampok oleh Kerajaan Hindhia Belanda yang kegelapannya lebih terorganisir, sistematis, rumit, filosofis bahkan teologis dan didukung dengan persenjataan modern.

Dari Bekas reruntuhan Kerajaan Hindia Belanda inilah Republik Indonesia ini dibangun.

Arok mempunyai murid gelap bernama said. Said mempunyai murid gelap bernama Cu. Cu mempunyai murid gelap bernama Mangir. Mangir mempunyai murid gelap bernama Gobang Kinosek Gobang Kinosek mempunyai murid gelap bernama Kutil. Kutil punya murid gelap: Kasdut. Kasdut mempunyai murid yang belum menarik didongengkan. Seperti yang lain juga mempunyai murid gelap namanya aku belum tahu. Apakah ada yang tahu? Mari, Anda Boleh juga mendongeng di sini

Ada juga rampok yang masih gelap ceritanya. Dia keturunan Giri, Seh Among Rogo yang dianggap soleh. Nggak tahu siapa guru gelapnya. Dibunuh oleh tentara Mataram dan mayatnya dibuang dengan ditenggelamkan ke dasar laut Kidul. Dengan tuduhan merampok dan bikin rusuh di kampung-kampung Mataram sekitar Bantul, sambil mengajarkan aliran sesat.


Apakah rampok-rampok kertas politik ini Bisa mengungguli Mbah-Mbah mereka bahkan Bisa mengungguli Arok murid pertama Sang Hyang Rampok ing Jagad? Merebut kekuasaan adipati Tumapel, merebut kekuasaan Dandang Gendhis dan mendirikan kerajaannya sendiri Singhasari?

Musik

Seorang perempuan datang membangunkan.

Bangun ada garukan Rampok. garukan Rampok. Semua bangun terkejut. Kalian memang rampok tak berguna. Tak ngerti sejarah! Terkutuk, semua. Anjing. Ayo bangun, bangun! Apakah kalian mau dicacah dan dibakar? Kalian rampok? sungguh dari dunia kegelapan? tempat Sang Hyang Gelap berada?
 •  flag
0 comments
Twitter_icon like  • 
Published on December 18, 2009 22:54 • 326 views

September 13, 2008

Aku mencintaimu

Di mana kita bertemu aku lupa

Kapan kita bertemu aku lupa

Mengapa aku mencintaimu

Aku tak pasti

Seingatku

Sejak kau bela dengan berani pelacur itu

Kamu katakan pada mereka

"Siapa yang tidak punya dosa.

Hendaklah ia yang pertama

Melemparkan batu-batu ini pada perempuan itu".

Aih, sungguh!

Aku terangsang dan rindu

Kamu pemuda istimewa

Tak seperti pemuda-pemuda lain

Yang tunduk-taat pada adat dan faham kaum tua

***

Kamu tahu

Pelacur itu...

 •  flag
0 comments
Twitter_icon like  • 
Published on September 13, 2008 09:26 • 71 views

August 21, 2008

untuk dis

seandainya
aku punya mimpi
aku ingin bermimpi
tentang perubahan dan sebuah gerakan

seandainya
aku punya gagasan
aku ingin menggagas
perubahan dan sebuah gerakan

seandainya
aku punya cerita
aku ingin cerita
tentang perubahan dan sebuah gerakan

seandainya
aku berpikir
aku ingin memikirkan
perubahan dan sebuah gerakan

seandainya
aku bekerja
aku ingin bekerja
hanya untuk perubahan dan sebuah gerakan

setidak-tidaknya
untuk diriku sendiri

Jakarta, 18 Agustus 2008[image error]
 •  flag
0 comments
Twitter_icon like  • 
Published on August 21, 2008 10:42 • 69 views

August 11, 2008

untuk n


Kapitalisme?

Setan!


Jakarta, 8 Agustus 2008[image error]
 •  flag
0 comments
Twitter_icon like  • 
Published on August 11, 2008 03:52 • 56 views

August 8, 2008

Begitu cepat waktu berlalu.

"Hai, Jangan pergi..."



Tebet Dalam, 9 Agustus 2008[image error]
 •  flag
0 comments
Twitter_icon like  • 
Published on August 08, 2008 12:52 • 57 views

August 7, 2008

di langit kita menggantungkan harapan

pada puncak-puncak gunung kita berharap

sekali petik selesai sudah

lalu tertawa menyusuri sungai berbatu-batu

di lembah kita menggantungkan harapan

pada gubuk tua dan rahasia daun-daun nenek moyang kita berharap

sekali petik selesai sudah

lalu tertawa menari pada pesta panen

di malam kita menggantungkan harapan

pada laju kembara angin segala penjuru kita berharap

sekali petik selesai sudah

lalu kita tertawa sepanjang hidup...

 •  flag
0 comments
Twitter_icon like  • 
Published on August 07, 2008 23:39 • 68 views



Di sini laut mati tak berombak

Beri aku arak, sayang

Biar kulihat awan merah berarak-arak

Seperti barisan para pemberontak

Holobis kuntul baris

Rawe-rawe rantas malang-malang putung

Ho..e di sini laut mati tak berombak

Di manakah jejak Musa membelah ombak?

Meluluhlantakkan bala tentara Fir'aun?

Holobis kuntul baris

Rawe-rawe rantas malang-malang putung

Di sini laut mati tak berombak

Sekali lagi beri aku arak, sayang

Biar kuterbang sejenak di awan merah berarak-arak

Di...

 •  flag
0 comments
Twitter_icon like  • 
Published on August 07, 2008 23:37 • 67 views