Mohammad Kasim





Mohammad Kasim



Penulis novel dan cerpen zaman Balai Pustaka. Lahir di Muara Sipongi, Sumatera Utara, 1886. Antara lain bersama Suman Hs., M. Kasim termasuk pelopor penulisan cerita pendek dalam jajaran sastra Indonesia baku. Ia semula mempunyai pekerjaan tetap sebagai guru sekolah dasar. Tahun 1922, mulai dikenal sebagai penulis melalui novelnya yang pertama terbitan Balai Pustaka, yakni Moeda Teroena. Pada tahun 1924 ia memenangkan sayembara menulis buku anak-anak. Karyanya kemudian diterbitkan dengan judul Pemandangan dalam Doenia Kanak-kanak (Si Samin). Ia juga dikenai sebagai penulis cerita pendek yang kemudian diterbitkan sebagai buku Teman Doedoek (1936).
Novel maupun cerpennya bercerita tentang penduduk perkampungan Sumatera dengan gaya sederhana da
...more

Average rating: 3.87 · 15 ratings · 0 reviews · 1 distinct work · Similar authors
Si Samin

3.87 avg rating — 15 ratings — published 1924
Rate this book
Clear rating

* Note: these are all the books on Goodreads for this author. To add more, click here.

Upcoming Events

No scheduled events. Add an event.

“Lamlah tidak mau jadi anak laja, Lamlah anak bapak dan anak mak,"
jawab budak yang belum mengenal kemuliaan dunia itu.
Ala, bodoh si Malah ini, tidak mau jadi anak raja?" kata si Samin
mencampuri percakapan itu. "Anak raja senang sekali, duitnya banyak,
hari-hari makan ayam."
Kalau si Samin ini, tak lain daripada memikirkan pengisi perut saja,"
kata mak si Samin dari balik dinding.
Ya, abang ini lakus benal, endak makan ayam saja seperti musang,"
kata si Ramlah.”
Mohammad Kasim

“..Pakaian kita patutlah sepadan dengan pencaharian kita. Kalau kita
telah bersepatu, hendaknya di rumah pun duduk di atas kursi atau di
atas tikar permadani, tidur di atas katil, makan cukup, gulai jangan
sambal terasi berganti dengan sambal belacan sahaja.
Aku ini, itulah sebabnya maka tak sepakat dengan kelakuan
kebanyakan orang zaman sekarang. Dasi berjela-jela setengah meter,
uang pun kuntal kantil di dada, tetapi kantung melayang ditiup angin.
Sampai di rumah mulut disempal dengan daun ubi campur sambal terasi.”
Mohammad Kasim

“Waktu orang tua itu lagi muda, aku pun lagi muda dan waktu ia
mendapat ikan itu aku pun sedang menangguk, beroleh seekor ikan, yang
amat besar pula, dalam perutnya kedapatan sebuah gung, yang amat
besar. Apabila aku palu kedengaranlah bunyinya "bohong, bohong,
bohong.”
Mohammad Kasim
tags: humor



Is this you? Let us know. If not, help out and invite Mohammad to Goodreads.