Agung Nugroho's Blog
October 27, 2009
"Bapak... tolong gambarin mobil dong," katanya. Berhubung lagi tanggung, dikit lagi naik level, gue jawab dengan, "Bentar ya... bapak lagi ketik-ketik ini... Rafi nggambar aja dulu di luar ya, nanti bapak nyusul."
Abis itu gue kembali sibuk mengerjakan tugas penting main mafia wars, sementara Rafi anteng di depan TV.
Beberapa menit kemudian, dia kembali men...
October 24, 2009
Maka, kembali bapaknya harus puter otak untuk menciptakan dongeng...
October 19, 2009
Gue sekarang ngerti, kenapa ada film / acara tv yang mencantumkan peringatan 'Bimbingan Orangtua'. Ternyata dengan adanya 'bimbingan orangtua', tontonan bisa ditangkap anak dengan persepsi yang, yah.. hampir berbeda 180o dengan yang diniatkan oleh para pembuatnya.
Contohnya film Godzilla vs. Mechagodzilla. Film ini gue beli secara iseng-iseng karena ingin tau kenapa sih monster Godzilla bisa punya penggemar yang begitu fanatik. Gue tau ini bukan film untuk anak2 seusia Rafi, makanya gue...
October 18, 2009
Semalem gue nonton film yang gue beli secara iseng, "Godzilla against Mechagodzilla", di DVD. Setting ceritanya tahun 1999, di mana Jepang lagi-lagi disatronin sama Godzilla setelah kunjungan Godzilla terakhir pada tahun 1954. Seperti biasa, segala jenis persenjataan mulai dari tank, rudal, sampe 'maser beam' nggak berhasil mengalahkan monster ini, sehingga orang-orang Jepang membuat 'Mechagodzilla', robot yang bentuk dan ukurannya mirip Godzilla.
Pas robotnya baru jadi, pas Godzillanya...
October 10, 2009
Hari ini gue menghadiri acara siraman salah satu kerabat. Menjelang acara dimulai, sang MC mulai bersiap membacakan urutan para sesepuh yang nanti akan menyirami mempelai. Kebetulan MC-nya berdiri dekat gue, lagi berkasak-kusuk dengan salah satu anggota keluarga. Gue, seperti biasa nguping sepotong-sepotong.
"...setelah itu, saya panggil Ibu Mujilah ya? Ibu Mujilah siapa nama lengkapnya?"
"Waduh, saya juga kurang tahu..."
"Kalau bisa dengan nama lengkapnya, biar lebih sopan. Ibu Mujilah siapa s...
October 8, 2009
Image, buat para pesohor (ceritanya mau ikutan mempopulerkan istilah bakunya 'selebritis') ibarat ayam buat para penjual ayam goreng: penting banget. Itulah sebabnya mereka rela menghabiskan banyak duit untuk penampilan, beli baju mahal, make-up, dsb dkk. Di Hollywood, nggak sedikit pesohor yang menyewa jasa konsultan untuk membantu mereka membangun image. Para konsultan ini yang nantinya akan memberikan rekomendasi, aktivitas apa aja yang sebaiknya dilakukan si pesohor dan aktivitas apa aja ...
October 6, 2009
Di kantor, gue kerja di tim "Internal Communication". Berhubung tim seperti ini relatif nggak terlalu banyak dimiliki oleh perusahaan lain (bukan karena susah tapi karena sering dianggep kurang penting), maka gue sering jadi tempat bertanya soal internal communication oleh temen-temen gue.
Salah satu pertanyaan teraneh soal internal communication gue terima beberapa hari yang lalu,
"Gung, kantor gue mau bikin tim internal communication..."
"OK, trus?" Kirain mau nawarin kerjaan, gitu.
"...tapi ...
October 4, 2009
Nakut-nakutin orang lewat film itu bukan pekerjaan yang gampang, lho. Film horror yang sukses, menurut gue, minimal harus punya 2 elemen: (1) kejutan dan (2) keterkaitan dengan latar belakang penonton. Masalahnya, dengan semakin banyaknya film horror yang beredar, unsur kejutan semakin sulit dibuat karena penonton semakin pinter nebak adegan yang akan terjadi berikutnya. Misalnya, saat tokoh noleh ke kanan, penonton udah mengantisipasi bahwa setannya akan muncul dari kiri. Maka kalo tuh...
October 3, 2009
Kadang di sebuah hari Senin pagi yang mendung, udara adem sepoi-sepoi, mata masih berat karena semalem keasikan ngeMPi sampe jam 2 pagi, acara perpisahan dengan tempat tidur menjadi sebuah peristiwa yang mengharukan. Apalagi kalo tau pagi ini agenda di kantor adalah "meeting koordinasi lintas tim" (yang artinya presentase topik bahasan yang nggak relevan dengan urusan lo dalam meeting sejenis adalah sama dengan jumlah peserta dikurangi satu dikalikan 100%), nggak jarang gue mikir, "Andaikan g...
October 1, 2009
Sequel, apalagi dari sebuah film yang menurut gue bagus, selalu bikin deg-degan. Di satu sisi senang bahwa film yang bagus itu muncul lagi, tapi juga cemas karena berdasarkan pengalaman sequel biasanya lebih jelek dari film aslinya. Penyebabnya biasanya karena sequel dibuat bukan karena betul-betul ada materi cerita lanjutan, tapi hanya karena film pertamanya laku keras dan para juragan di balik film tersebut ngiler ingin mengulang kesuksesan yang sama.
Get Married yang pertama dulu, udah...


